Home » » Terjemahan Kitab Nashaihul Ibad - Menjadi Santun Dan Bijak (BAB I)

Terjemahan Kitab Nashaihul Ibad - Menjadi Santun Dan Bijak (BAB I)

Teknologi SupportDalam bab ini ada 30 nasihat yang masing-masing terdiri dari 2 point. Empat di antaranya berupa Hadist Nabi, dan sisanya berupa atsar.



1. DUA HAL YANG SANGAT UTAMA

Nabi S.A.W bersabda:




"Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaannya oleh yang lain, yaitu:
1. Iman kepada Allah dan
2. Memberi manfaat kepada sesama muslim."

Memberi manfaat kepada sesama muslim bisa dengan ucapan, kekuasaan, harta benda, maupun tenaga.

Dalam Hadist lain Rasulullah S.A.W bersabda:







"Barang siapa berada pada pagi hari tanpa bermaksud menzalimi seorang pun, maka dosa-dosanya diampuni. Barang siapa berada pada pagi hari dan berniat menolong orang yang teraniaya serta memenuhi keperluan orang Islam, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji mabrur."













"Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling utama adalah menyenangkan hati orang mukmin dengan cara menghilangkan kelaparan dan kesusahan atau melunasi hutangnya. Ada dua perkara yang sangat kotor dan keji, yaitu: menyekutukan Allah dan menimbulkan kemadharatan bagi kaum muslim."


2. DUA PERINTAH NABI AGAR BERGAUL DENGAN ULAMA

Nabi S.A.W bersabda:









"Hendaknya kalian duduk bersama ulama dan mendengarkan perkataan hukama' (orang bijak), karena sesungguhnya Allah ta'ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan."

Dari riwayat Thabarani dari Abu Hanifah disebutkan:






"Duduklah bersama kubara' (ulama besar) dan bertanyalah kepada para ulama serta bergaullah dengan para hukama' (orang bijak)."

Dalam riwayat lain dikatakan:








"Duduklah bersama ulama dan bergaullah dengan para hukama' serta akrabilah kubara'."

Pada dasarnya ulama itu terbagi menjadi tiga kelompok:
1. Ulama yang sangat menguasai dan memahami hukum-hukum Allah.
Ulama seperti itu disebut dengan ash-habul fatwa, yaitu ulama yang banyak mengeluarkan fatwa.

2. Ulama yang sangat dalam kemampuan tentang ma'rifat kepada dzat Allah
Ulama seperti itu disebut dengan hukama'. Golongan ulama seperti ini senantiasa menitikberatkan pada upaya memperbaiki tingkah laku dan akhlaq, baik untuk diri sendiri maupun umatnya. Demikian itu karena hati mereka selalu tersinari dengan ma'rifatullah dan jiwa mereka selalu terseinari dengan cahaya keagungan Allah.

3. Ulama-ulama besar yang disebut dengan al-kubara'.
Ulama seperti ini senantiasa malakukan hal-hal yang terpuji untuk kepentingan mahluk Allah, terutama ahli ibadah. Lirikannya lebih memberi manfaat daripada ucapannya. Barang siapa yang lirikannya memberi manfaat kepada Anda, maka tentu bermanfaatlah ucapannya. Begitu pula sebaliknya, barang siapa yang lirikannya tidak memberi manfaat kepada Anda, maka ucapannya pun tidak akan memberi manfaat.

Disebutkan dalam suatu kisah bahwa Imam Suhrawardi pernah mengelilingi sebagian masjid Khaif di daerah Mina. Ia memandangi wajah para hadirin yang ada satu per satu. Ketika ditayakan tentang sikapnya itu ia menjawab: "Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang tertentu yang jika seseorang memandang mereka, mereka dapat memberikan kebahagiaan kepadanya, dan aku sekarang sedang mencarinya."

Rasulullah S.A.W bersabda: 











"Akan datang suatu masa kepada umatku di mana mereka lari dari para ulama dan fuqaha', maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu: 1. Allah menghilangkan berkah dan rizki mereka. 2. Allah menjadikan penguasa yang zhalim untuk mereka; dan 3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman."


3. DUA PERUMPAMAAN MASUK KUBUR TANPA BEKAL

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah berkata:







"Barang siapa masuk kubur tanpa membawa bekal, maka seakan-akan dia mengarungi lautan tanpa perahu."

2. Rasulullah S.A.W bersabda:






"Keadaan mayat di dalam kubur itu tidak ubahnya seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan."


4. DUA KEMULIAAN

Umar R.A berkata:





1. "Kemuliaan dunia bisa diraih dengan harta:
2. Kemuliaan akhirat hanya bisa diraih dengan amal shalih."

Dinukil dari Syaikh 'Abdul Mu'thi As-Samlawi:












"Bahwa Nabi S.A.W pernah berkata kepada Jibril A.S: 'Gambarkanlah kepadaku tentang kebaikan-kebaikan 'Umar.' Jibil menjawab: 'Bila lautan menjadi tinta dan seluruh pepohonan menjadi penanya, maka aku tetap tidak dapat menghitung kebaikannya.' Nabi S.A.W berkata lagi: 'Gambarkanlah kepadaku tentang kebaikan-kebaikan Abu Bakar.' Jibril menjawab: 'Umar adalah salah satu gambaran dari semua gambaran kebaikan Abu Bakar.'


5. DUA KESEDIHAN
'Utsman R.A berkata:
1. "Kesedihan dalam urusan dunia dapat menggelapkan hati
2. Kesedihan dalam urusan akhirat bisa menerangi hati."


6. DUA PENCARIAN
'Ali R.A berkata:
1. "Barang siapa mencari ilmu, berarti ia sedang mencari surga.
2. Barang siapa mencari kemaksiatan, berarti ia sedang mencari neraka."

Yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu yang bermanfaat, yang wajib diketahui dan dipelajari oleh setiap orang yang baligh dan berakal sehat.


7. DUA SIKAP, ORANG MULIA DAN BIJAKSANA
Yahya bin Mu'adz R.A berkata:
1. "Orang mulia tidak akan durhaka kepada Allah.
2. Orang bijaksana tidak akan memilih dunia dengan meninggalkan akhirat"


8. DUA MODAL YANG BERBEDA HASILNYA
Al-A'masy (Sulaiman bin Mihran Al-Kufi) R.A berkata:
1. "Barang siapa yang modal kekayaannya berupa taqwa, maka semulia lisan tak akan ada yang mampu untuk menggambarkan keuntungan dalam agamanya.
2. Barang siapa yang modal kekayaanya berupa dunia, maka semua lisan tak akan ada yang mampu untuk menggambarkan kerugian dalam agamanya."


9. DUA DASAR KEMAKSIATAN
Sufyan Ats-Tsaury R.A berkata:
1. "Setiap kemaksiatan yang timbul dari dorongan nafsu masih bisa diharapkan ampunannya.
2. Setiap kemaksiatan yang timbul dari dorongan kesombongan, maka tidak dapat diharapkan ampunannya.

Sebab kedurhakaan iblis bersumber dari sikap sombong, sedangkan tergelinciran Nabi Adam A.S akibat dari dorongan nafsu."


10. DUA JENIS TANGISAN
Seorang ulama zuhud berkata:
1. "Barang siapa yang berbuat dosa, sementara dia tertawa (merasa bangga), maka kelak Allah akan memasukkannya ke neraka dalam keadaan menangis.
2. Barang siapa taat kepada Allah, sementara dia menangis (sebab amat takut kepada-Nya), maka kelak Allah akan memasukkannya ke surga dengan penuh kegembiraan."


11. LARANGAN MEREMEHKAN DOSA KECIL
"Janganlah kalian meremehkan dosa-dosa kecil, karena:
1. Dosa-dosa kecil itu dapat memunculkan beragam dosa besar.
2. Dosa-dosa kecil itu bisa jadi dapat menimbulkan murka Allah."


12. DUA JENIS DOSA
Rasulullah S.A.W bersabda:
1. "Tidak disebut sebagai dosa kecil apabila dosa tersebut dikerjakan secara terus-menerus.
2. Tidak disebut dosa besar apabila disertai dengan istighfar."

Dosa kecil bisa menjadi dosa besar apabila dilakukan secara terus-menerus. Maksud istighfar di sini adalah bertobas berikut syarat-syaratnya, sebag tobat dapat menghapus dosa meskipun dosa itu dosa besar. Imam Dailami meriwayatkan Hadist ini dari Ibnu 'Abbas, hanya saja kalimat pada nomor satu ditempatkan pada nomor dua dan sebaliknya.


13. DUA AKTIVITAS UTAMA
Ada yang mengatakan bahwa:
1. "Aktivitas utama orang arif (mengenal dan mencintai Allah) adalah memuji Allah.
2. Aktivitas utama orang zuhud adalah berdo'a.

Sebab tujuan orang arif adalah mencari keridhaan Allah, sementara tujuan orang zuhud adalah mencari pahala Allah."


14. DUA BUKTI BELUM MENGENAL ALLAH DAN DIRINYA SENDIRI
Seorang bijak berkata:
1. "Barang siapa menyangka bahwa ia punya penolong yang lebih utama dan lebih kuat daripada Allah, berarti ia belum mengenal Allah dengan baik.
2. Barang siapa menyangka bahwa dirinya mempunyai musuh yang lebih kuat daripada dorongan nafsunya, berarti ia belum mengenal dirinya dengan baik."


`15. DUA KERUSAKAN
Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A berkata dalam menafsirkan firmal Allah (QS. Ar-Ruum (30): 41 -edt):
"Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan.":

1. "Daratan maksudnya adalah lisan.
2. Lautan maksudnya adalah hati.

Apabila lisan rusak, maka menangislah manusia (karena merasa tersakiti), dan bila hati rusak, maka menangislah malaikat."

Di antara rusaknya lisan adalah digunakannya untuk mencaci-maki orang lain. Adapun di antara rusaknya hati adalah melakukan riya', sehingga para malaikat menangis karena menyesalkannya.

Sebab diserupakannya hati dengan lautan karena hati memiliki sifat luas dan dalam.


16. DUA NASEHAT TENTANG NAFSU DAN SABAR
Dikatakan bahwa:
1. "Nafsu dapat menyebabkan penguasa menjadi budak;
2. Sabar bisa menyebabkan budak menjadi raja

Tidakkah engkau mengetahui tentang cerita Nabi yusuf dan Zulaikha?"
Nabi Yusuf adalah putra Nabi Ya'qub yang sangat sabar. Nabi Ya'qub adalah putra Nabi Ishaq yang sangat ramah, sedangkan Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim, kekasih Allah.


`17. DUA PENGENDALIAN AKAL
Ada yang mengatakan:
1. "Berbahagialah orang yang dapat menjadikan akalnya sebagai raja, sedangkan nafsunya dijadikan tawanan.
2. Celakalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai raja, sedangkan akalnya dijadikan tawanan".

Berbahagialah seseorang yang akal sehatnya dapat mengendalikan dorongan nafsunya. Celakalah orang yang akalnya terbelenggu dan dikendalikan oleh nafsunya.


18. DUA KEUNTUNGAN MENJAUHI KEHARAMAN 
Dikatakan:
1. "Barang siapa menginggalkan dosa, maka hatinya menjadi lembut.
2. Barang siapa meninggalkan perkara yang haram serta memakan hanya yang halal, maka akal pikirannya menjadi jernih."


19. DUA WAHYU ALLAH KEPADA NABINYA
Sebagian para Nabi telah diberi wahlu kepada Allah:
1. "Taatlah engkau kepada-Ku dalam segala hal yang Aku perintahkan kepadamu.
2. Janganlah engkau mendurhakai Aku dalam semua hal yang telah Aku perintahkan kepadamu.


20. DUA KESEMPURNAAN AKAL
Bukti kesempurnaan akal adalah:
1. "Mengikuti keridhaan Allah ta'ala; dan
2. Menjauhi segala yang dimurkai Allah."


21. DUA PERBEDAAN YANG BERILMU DAN YANG BODOH
Dikatakan:
1. "Orang yang berpengetahuan tidak akan merasa asing dimana pun ia berada.
2. Orang yang tidak berpengetahuan akan merasa terasing dimana pun ia berada."

Orang yang berilmu dan beramal shalih akan selalu dihormati dan dimuliakan orang dimana saja ia berada. Sebaliknya, keberadaan orang bodoh dimana saja tetap tidak dihiraukan orang dan selalu akan mengalami kesulitan.


22. DUA CIRI ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH
Dikatatan: "Barang siapa yang taat kepada Allah,
1. Akan dekat kepada Allah; dan
2. Asing diantara manusia."

Maksudnya, barang siapa yang telah merasakan nikmat dengan menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah, maka ia akan merasa asing dari pergaulan manusia pada umumnya. 


23. DUA AKTIVITAS INTI
Dikatakan:
1. "Aktivitas ketaatan adalah bukti nyata mengenal Allah
2. Aktivitas gerakan tubuh adalah pertanda kehidupan."


24. DUA SUMBER DOSA DAN FITNAH
Rasulullah S.A.W pernah bersabda:
1. "Sumber segala dosa adalah cinta dunia; dan 
2. Sumber segala fitnah adalah tidak mau membayar 1/10 harta (zakat pertanian) dan tidak akan membayar zakat (pada umumnya)."


25. DUA PENGAKUAN KELEMAHAN DIRI
Dikatakan:
1. "Orang yang selalu mengakui kelemahan dirinya dalam ketaatan adalah terpuji; dan
2. Mengakui kelemahan diri (dalam beramal) adalah tanda diterimanya amal."

Selalu mengakui bahwa dirinya kurang dalam beramal shalih merupakan suatu tanda bahwa dirinya terhindar dari penyakit ujub dan takabbur.


26. DUA PERBUATAN TERCELA
Dikatakan:
1. "Kufur nikmat adalah perbuatan tercela;
2. Menemani orang yang tolol adalah perbuatan sia-sia belaka."

Rasulullah S.A.W perah bersabda:
"Putuskanlah persahabatan dengan orang yang tolol." (HR. Thabarani dari Basyir)

Maksudnya, janganlah berteman dengan orang tolol, karena dikhawatirkan akan menularkan ketololannya kepada Anda.

Rasulullah S.A.W juga bersabda:
"Ada dua perkara, barang siapa memiliki keduanya, maka Allah akan mencatat dia sebagai orang yang bersyukur dan penyabar; dan barang siapa yang tidak memiliki kedua perkara tersebut, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan tidak pula sebagai penyabar, yaitu:

1. Orang yang dalam urusan agamanya melihat kepada orang yang lebih tinggi daripadanya, lalu dia mengikutinya; sedangkan dalam urusan dunianya dia melihat kepada orang yang lebih rendah daripadanya, lalu dia memuji Allah atas karunia yang telah diberikan kepadanya, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan penyabar.

2. Orang yang dalam urusan agamanya melihat kepada orang yang lebih rendah, sedangkan dalam urusan dunianya melihat kepada orang yang lebih tinggi, lalu ia menyesali apa yang tidak dia capai, maka Allah tidak mencatat dirinya sebagai orang yang bersyukur dan penyabar." (HR. Tirmidzi dari Ibnu 'Amr)


27. DUA KERUGIAN AKIBAT MENYIBUKKAN DIRI DENGAN DUNIAWI
Seorang penyair berkata:
Wahai orang yang sibuk dengan dunia sesungguhnya ia telah tertipu oleh panjangnya angan-angan Atau selalu berada dalam kelalaian hingga ajal mendekatinya
Kematian itu datang tanpa pemberitahuan
Balasan amal perbuatan menanti di alam kubur
Bersabarlah dalam menghadapi kesusahan dunia
sebab tiada kematian kecuali jika ajalnya

Rasulullah S.A.W bersabda:
"Menjauhi kesenangan dunia lebih pahit rasanya daripada pahitnya bratawali dan lebih menyakitkan daripada sabetan pedang di medan peperangan. Tiada seorang pun yang menjauhinya, melainkan dianugerahi oleh Allah pahala yang sama seperti yang diberikan-Nya kepada para syuhada. Cara menjauhi kesenangan duniawi adalah dengan sedikit makan dan tidak terlalu kenyang serta tidak suka dipuji orang. Barang siapa yang suka dipuji orang, berarti dia menyukai dunia dan kesenangannya. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin meraih kesenangan yang hakiki hendaknya menjauhi keduniawian dan pujian orang lain." (HR. Dailami).

"Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan membuat baik semua urusannya, menjadikan kekayaannya ada di hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dengan mudah. Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran ada didepan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali sebatas yang telah ditentukan."


28. DUA KIDUNG PENAWAR KALBU (TOMBO ATI)
1. "Ya Allah, aku ingin mengerjakan semua kebaikan, tapi apa daya tangan tak sampai.
2. Maafkanlah segala kekuranganku. Engkau Maha tidak memerlukan dari menyiksaku.

Karena semua dosa-dosaku tidak merugikan-Mu, begitu pula semua ketaatanku tidak menguntungkan-Mu."

Berikut ini adalah bait-bait syair yang telah diijazahkan kepadaku oleh salah seorang ulama terkemuka untuk dibaca tujuh kali usai Sholat Jum'at, yang artinya sebagai berikut:

"Ya Tuhanku, tak layak bagiku menghuni surga Firdaus-Mu
namun aku tak kuat bila menempati neraka Jahim.
Maafkanlah semua kesalahanku dan ampunilah semua dosaku
karena hanya Engkaulah yang mengampuni dosa-dosa yang besar.
Perlakukanlah daku dengan perlakuan yang terhormat
dan kokohkanlah keyakinanku pada jalan yang benar."

Diceritakan bahwa pada suatu hari Abu Bakar Asy-Syibli datang kepada Ibnu Mujahid. Tiba-tiba Ibnu Mujahid merangkulnya, lalu mencium keningnya. Ketika ditanyakan kepadanya tentang sambutannya kepada Asy-Syibli itu, ia menjawab: "Aku telah bermimpi melihat Rasulullah S.A.W mencium Abu Bakar Asy-Syibli, lalu aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W, mengapa engkau berbuat demikian kepada Asy-Syibli? Beliau menjawab: 'Karena, tidaklah ia mengerjakan shalat fardhu, melainkan dia membaca dua ayat berikut ini sesudahnya:

Sesunggunya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan kalian: dan dia sangat menginginkan (keselamata dan keimanan) bagi kalian dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanannya), maka katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku; tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal; dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung." (QS. At-Taubah (9): 128-129)

Sesudah itu membaca shalawat berikut untukku, yaitu: 'Shollallohu 'alaika ya Muhammad.' (Semoga Allah melimpahkan shalawat-Nya kepadamu, wahai Muhammad). Selanjutnya, aku menanyakan kepada Asy-Syibli bacaan yang dia ucapkan sesudah shalatnya, maka ia menyebutkan hal yang semisalnya."

Nama asli Abu Bakar Asy-Syibli adalah Dalaf bin Jahdar Al-Baghdadi. Ia seorang tokoh ahli ma'rifat dan hidup pada masa Syekh Junaid dan masa madzhab Maliki. Ia meninggal pada tahun 334 Hijriyah dalam usia 87 tahun dan dimakamkan di Baghdad.


29. DUA NASIHAT ASY-SYIBLI 
1. "Jika hatimu ingin merasa tenang dan tentram dengan Allah, maka janganlah engkau turuti kesenangan hawa nafsumu.
2. Jika engkau ingin dikasihi Allah, maka kasihilah mahluk Allah."


30. DUA KENIKMATAN DEKAT DENGAN ALLAH
Abu Bakar Asy-Syibli berkata:
1. "Jika engkau sudah merasakan nikmatnya dekat dengan Allah,
2. niscaya engkau dapat merasakan bagaimana pahitnya jauh dari Allah."

Bagi orang-orang ahli ibadah yang senantiasa bertaqarrub kepada Allah, mereka akan terasa tersiksa batinya ketika jauh dari Allah. Oleh karena itu, Rasulullah S.A.W berdo'a dengan do'a berikut ini:
"Ya Allah, berikanlah aku rizki dengan kelezatan memandang wajah-Mu yang mulia dan nikmatnya rindu bersua dengan-Mu.



Demikian Terjemahan Kitab Nashaihul Ibad - Menjadi Santun Dan Bijak (BAB I), semoga bermanfaat. Bab selanjutnya adalah pembahasan BAB II yang berisi 55 nasehat dengan masing-masing terdiri 3 point.

0 komentar:

Posting Komentar